Tampilkan postingan dengan label Polres Bandung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Polres Bandung. Tampilkan semua postingan

30 Mei 2019

Tips Lolos Membuat SIM A Tanpa Ikut Kurus Mengemudi dan Tanpa Nembak Berdasarkan Pengalaman Pribadi

Kali ini saya akan sharing tips bagaimana lolos membuat SIM A bagi pemula tanpa ikut kursus mengemudi dan tanpa nembak berdasarkan pengalaman pribadi.

Suasana ujian praktik SIM A di Polres Bandung

Bagi sebagian orang yang baru mempunyai mobil, pasti menginginkan SIM A agar dapat berleluasa berkendara di jalan raya tanpa takut ditilang oleh Polisi. Nah untuk mendapatkan SIM A tersebut tentunya perlu perjuangan dan pengorbanan yang tidak sedikit apabila kita mau memproses pembuatan SIM A dengan jalur yang halal (tidak nembak). Adapun tips yang saya tuliskan di sini adalah murni dari pengalaman pribadi yang baru saja mendapatkan SIM A dengan halal tanpa nembak.

Adapun tips yang bisa disharing di sini adalah:

1. Pertama, menggunakan mobil pribadi untuk latihan.
Tujuan dari menggunakan mobil pribadi adalah agar kita bisa mengulik lebih leluasa apa yang hendak akan kita pelajari tanpa takut akan hal-hal yang tidak diinginkan. Misalnya kita tidak perlu khawatir mengganti sesuatu apabila ada suatu kerusakan, karena akan berbeda rasanya ketika ada sesuatu yang rusak jika kita menggunakan mobil oranglain. Selain itu ketika kita sudah terbiasa menggunakan mobil sendiri, maka kedepannya akan bisa lancar mengemudi. Usahakan untuk latihan kita gunakan mobil yang bertransmisi manual, karena pada ujian praktik yang dilakukan di kantor polisi atau samsat menggunakan mobil yang bertransmisi manual.

2. Kedua, Jangan gengsi untuk meminta bantuan latihan kepada teman atau sodara yang sudah mempunyai SIM.
Gengsi merupakan dinding penghalang bagi kemajuan diri kita. Maka buang jauh-jauh rasa gengsi ketika kita meminta teman yang sudah mempunyai SIM untuk mengajarkan kita cara mengemudi. Pengalaman saya untuk latihan mengemudi mobil ini, meminta bantuan kepada dua orang teman saya yang sudah mempunyai SIM.

3. Ketiga, Perbanyak latihan, minimal seminggu sekali.
Ketika kita melakukan latihan mengemudi mobil, buang jauh-jauh rasa takut. Tanamkan pikiran kita dengan “All the things are under control” atau semuanya bisa kita kendalikan. Dan selaras dengan hal itu kita juga harus menanamkan kesabaran. Bagi pemula mungkin akan wajar jika pertama kali mengemudikan mobil mempunyai rasa takut, takut nabrak, tidak bisa belok, mesin mati, dan lain sebagainya. Maka kunci untuk menghilangkan rasa takut tersebut harus perbanyak latihan minimal seminggu sekali agar kita tidak kaku dalam menginjak gas, memindahkan gigi, belok, dsb. Carilah tempat atau wilayah yang memadai untuk latihan mobil. Pengalaman saya pada saat latihan mobil, saya memilih lokasi yang tidak terlalu ramai. Kalau di wilayah Bandung, pada saat itu tempat latihan saya di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (melancarkan injakan gas, kopling, rem), kemudian di Stadion Si Jalak Harupat (untuk melatih parkir mundur seri dan paralel), dan yang terakhir di komplek Dago Resort yang terletak di wilayah perbukitan (untuk melatih stop and go di tanjakan). Tentunya pada saat latihan tersebut saya tidak sendirian, melainkan ditemani oleh rekan saya, agar jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, teman saya bisa membantu.
Pengalaman saya latihan parkir mundur paralel dan seri, saya menggunakan patok yang saya buat sendiri dari barang-barang bekas, yakni kertas kalender yang digulungkan kepada botol mineral yang sudah diisi air. Saya membuatnya 6 buah yang diletakan di tepian samping dan belakang. Tujuannya adalah untuk mengukur feeling kita agar saat mundur tidak menabrak patok tersebut.

4. Keempat, Sering membaca artikel atau menonton video di youtube yang berkaitan dengan pengoperasian mobil bertansmisi manual.
Bagi saya Youtube adalah platform penyedia konten video yang sangat efektif bagi proses pembelajaran khususnya pembelajaran bagaimana cara mengemudikan mobil. Banyak channel-channel yang berisikan konten bagaiamana mengemudikan mobil yang tepat. Nah karenanya saya juga dapat pengetahuan tentang seluk beluk materi yang diujikan pada praktik SIM di kantor polisi.
Berikut video yang sangat membantu saya dalam pembuatan SIM A di Polres Bandung.
a. Ujian teori 
Tips pada saat mengerjakan ujian teori SIM A ini adalah dengan memperhatikan perilaku pengemudi yang ditunjukan pada ilustrasi video. Ingat harus fokus pada pertanyaan yang dibacakan, jangan sampai terkecoh dengan tulisan pertanyaannya. Kebetulan pada saat test ujian teori SIM A di Polres Bandung, soal-soal yang diujikan sangat persis sekali dengan video tersebut, sehingga saya pada waktu itu mendapatkan skor 98 (hanya salah satu soal). 

b. Ujian parkir seri dan paralel 
Nah pada tahap ini kita tidak diperbolehkan kepala kita melihat ke belakang pada saat parkir mundur seri dan paralel, kita harus menggunakan spion kiri kanan dan juga feeling. Akan dianggap gagal apabila saat kita parkir mundur seri dan paralel menyentuh patok atau traffic cone. Pengalaman yang saya lakukan pada saat praktik mundur seri dan paralel, kita harus fokus pada sisi kanan belakang mobil kita dengan melihatnya melalui spion. Karena ketika kita tidak menyentuh traffic cone di sebelah kanan belakang, maka posisi mobil akan aman (tidak menyentuh cone di sebelah kiri). Tentu harus juga ada perhitungan saat berbeloknya tidak boleh terlalu patah (miring) melainkan harus bisa memperhitungkan agar tidak menyentuh traffic conenya.

c. Ujian di tanjakan (stop and go)  


Dari sekian banyak video tutorial stop and go di tanjakan, menurut saya hanya video ini yang sangat bagus cara penjelasannya, karena sangat detail dan kita bisa melihat posisi kaki-kakinya, rpm, dan handbrake. Pada menit ke 5:35 di video tersebut menjelaskan bahwa ketika kita berhenti di tanjakan yang curam dan hendak maju lagi, yang harus kita lakukan adalah:

1). Saat menanjak usahakan pakai gigi satu agar mobil mempunyai tenaga yang prima.

2). Saat kita hendak berhenti di tanjakan, maka injak kopling dan tarik handbrake. 
Pada saat kita menarik handbrake harus disesuaikan dengan posisi tanjakannya, apabila sangat curam maka usahakan tarik handbrakenya sampai full, sebaliknya apabila tidak terlalu curam, maka tarik handbrakenya bisa setengah saja.

3). Jika kaki kita hendak beristirahat maka posisikan gigi di netral, setelah itu kita bisa mengistirahatkan kaki kita dengan tidak menginjak kopling dan rem.

4). Pada saat kita hendak maju, maka yang kita lakukan adalah kaki kiri menginjak kopling, masukan gigi satu, kaki kanan sudah standby di pedal gas (jangan menginjak gas terlebih dahulu ya, karena mesin akan meraung, maka posisikan saja kaki kanan di atas pedal gas saja), setelah itu release kopling secara perlahan hingga rpm turun dan mobil terasa bergetar akan maju, lalu ketika sudah bergetar akan maju maka injak gas dan release handbrakenya. Pada saat menginjak gas itu menyesuaikan dengan kondisi tanjakannya. Apabila curam maka injak gas dengan dalam, sebalikya apabila tidak terlalu curam maka injak gasnya tidak perlu terlalu dalam.

5). Ketika mobil sudah melaju perlahan jangan lepaskan kopling secara penuh, tahan sedikit dan apabila kecepatan sudah meningkat maka kopling bisa dilepaskan secara penuh. 


5. Kelima, Perbanyak doa dan sedekah.
Terakhir yang tidak bisa diremehkan adalah selain perbanyak latihan, kita juga harus memperbanyak doa dan sedekah agar dalam proses pembuatan SIM A dimudahkan oleh Allah. Dimudahkan di sini dapat diartikan kita mendapatkan orang penguji yang baik, tidak mengantri lama, saat test stop and go mesin tidak mati, dan masih banyak lagi.

Demikian itu saja yang dapat saya sharingkan kepada teman-teman terkait dengan tips lolos membuat SIM A tanpa kursus mengemudi dan tanpa nembak. Semoga bermanfaat dan apabila ada yang ingin ditambahkan dan koreksi, silahkan tulis di kolom komentar.
Terimakasih


29 Mei 2019

Sepotong Pengalaman Membuat SIM A (Mobil) Part 2

Perjalanan ke TKP (Polres Bandung)
Rabu tanggal 22 Mei 2019 diingatan saya adalah hari test ulang SIM A, dalam doa saya semoga hari ini saya bisa membawa kartu SIM A yang sah tanpa jalur belakang atau nembak. 
Saya biasa mempersiapkan diri untuk datang ke Polres Bandung lebih pagi, karena prinsip saya lebih baik menunggu daripada kesiangan. Tepat pukul 07.00 saya berangkat dari rumah, dan sampai di Polres pukul 07.35. Pada saat itu situasi jalan raya tidak begitu padat sehingga perjalanan tidak memakan banyak waktu.
Sesampainya di Polres Bandung, saya menyiapkan map abu yang bersisi persyaratan untuk membuat SIM beserta e-KTP. Tidak lama kemudian saya menuju pintu masuk pembuatan SIM dan petugas sudah siap menyambut kedatangan saya. Saya diminta untuk menunjukan map abu beserta e-KTP setelah itu saya diperbolehkan masuk dengan dikasi cap pada tangan saya (sebagai identitas pemohon SIM).

Momen menunggu giliran
Sesampainya di lokasi, terlihat belum banyaknya hiruk-pikuk orang yang akan membuat SIM baik di ruangan registrasi, ujian teori, maupun ujian praktek. Setelah kurang lebih 30 menit saya menunggu di kursi yang telah disediakan untuk ujian praktek akhirnya baru nampak beberapa orang yang juga akan ditest pada ujian praktek (mayoritas pemohon SIM C) dan hanya ada tiga orang pemohon SIM A. Setelah selang waktu beberapa menit kemudian, petugas datang untuk memberikan arahan sekaligus siap untuk mengawasi ujian praktek mobil dan motor. Semua berkas yang disimpan di dalam map dikumpulkan dan diberikan ke petugas. Pada saat itu saya mengumpulkan berkas di urutan paling terakhir yakni urutan ke tiga.


Momen test tanjakan
Petugas yang mendampingi untuk test praktik SIM A adalah Pak Tedy. Saya menilai beliau orangnya sangat strike dan harus sempurna, sehingga sangat susah untuk lolos ujian praktik SIM A ini. Singkat cerita orang pertama yang ditest ini dinyatakan gagal di tanjakan. Saya melihat dari kejauhan penyebab gagalnya yaitu saat stop and go di tanjakan mobil meraung dan seketika mundur. 
Kemudian untuk orang ke dua yang ditest juga dinyatakan gagal, karena saat ditest parkir seri menyentuh patok yang disimpan di sudut-sudut belakang hingga terjatuh.
Nah kemudian tibalah giliran saya untuk ditest. Pada saat itu karena ada kesibukan dari petugasnya, pengujian test mobil sempat ditunda sekitar 10 menit, dan menurut saya itu sangat beruntung sekali karena saya bisa menyiapkan mental dan juga ancang-ancang saat nantinya ditest di tanjakan. 10 menit berlalu akhirnya petugas datang, tetapi dengan orang yang berbeda. Pak Tedy yang semula bertugas untuk mendampingi test SIM A menjadi bagian admin, sehingga digantikan oleh Pak Aris. Alhamdulillah saya bersyukur setidaknya rasa tegang saya sedikit berkurang, karena Pak Aris terlihat murah senyum :D.
Setelah nama saya dipanggil, saya memasuki mobil gran max (mobil test SIM A), dan saya bergegas mempersiapkan posisi duduk yang senyaman mungkin.
Tiba di tanjakan, Pak Aris bilang berhenti dan silahkan maju kembali dengan mesin mobil tidak meraung, dan tidak mundur. Kondisi tanjakannya cukup terjal, sehingga saya menggunakan hand-brake untuk menahan mobil agar tidak mundur. Kemudian untuk dapat melaju kembali saya buka perlahan-lahan sekali kopling (yang ada di kaki kiri) hingga terasa mobil bergetar akan maju, setelah itu saya gas tipis hingga dalam. Ketika terasa mobil akan maju maka kemudian hand-brake dilepaskan secara perlahan. Ketika hand-brake dilepaskan secara perlahan saya merasa mobil masih mundur sedikit, mungkin kalau saat itu Pak Tedy yang menjadi pendamping saya untuk test maka akan tidak diluluskan, tetapi saya sangat merasa beruntung Pak Aris pada saat itu sangat baik sekali bisa meluluskan saya pada tahap tanjakan itu. Pak Aris juga bilang sebetulnya pada saat stop and go di tanjakan tersebut masih kurang sempurna, tapi beliau dengan baik hati memakluminya dan sempat bilang "jangan bilang-bilang ke yang lain ya bahwa saya meluluskannya" hehe dengan sigap saya berkata "siap pak, terimakasih banyaakk". Akhirnya saya dinyatakan lulus dan berkas saya ditandatangani oleh beliau.

Momen pembayaran 
Setelah dinyatakan lulus, diharuskan memberikan map tersebut ke bagian admin (pada saat itu Pak Tedy menjadi admin) kemudian setelah dicek, makan diwajibkan membayar Rp.120.000 di loket bank BRI yang lokasinya satu ruangan dengan ruang percetakan SIM. Setelah bayar dan menunggu kurang lebih 15 menit, akhirnya terbit SIM A atas nama Mushthofa Kamal.

My SIM A

Bangga sekali perasaan saya ketika mendapatkan SIM A ini dengan jerih payah yang terbilang cukup lama yaitu lima bulan lamanya saya menanti kehadiran SIM A.

Pelajaran yang didapatkan
Meskipun gagal beberapa kali (dari bulan Januari) saya tetap gigih berjuang untuk mendapatkan SIM A dengan cara halal alias tidak menembak, karena bagi saya adalah merupakan suatu kebanggan tersendiri ketika melalui jalur halal.
Kegagalan itu diciptakan agar kita senantiasa bisa belajar atau berlatih lebih banyak. Terbukti dengan adanya kegagalan itu saya bisa mengetahui seluk beluk mobil, masalah parkir, tanjakan, teknik stop and go yang baik, dan lain sebagainya melalui latihan-latihan yang dilakukan.
Jangan lupa berdoa dan juga bersedekah kepada orang yang membutuhkannya. Nah barangkali kesulitan yang kita hadapi itu bisa dihilangkan atau dipermudah dengan kita banyak berdoa dan juga bersedekah. Man Jadda wa Jadda.

Lanjut ke Part 3 (Tips Lolos Membuat SIM A Tanpa Ikut Kurus Mengemudi dan Tanpa Nembak Berdasarkan Pengalaman Pribadi)

25 Mar 2019

Sepotong Pengalaman Membuat SIM A (Mobil) Part 1

Suasana Polres Bandung di Area Praktik SIM A


Kali ini saya ingin berbagi cerita bagaimana saya membuat SIM A (surat izin mengemudi mobil) di Polres Bandung, Soreang.
Kebiasaan saya sebelum melakukan sesuatu, saya biasanya terbiasa membaca sebuah artikel online (browsing) yang berkaitan dengan langkah-langkah membuat SIM A, mulai dari berkas-berkas yang harus disiapkan, berapa lama proses pembuatannya, sampai dengan estimasi biaya yang dikeluarkan.
Setelah mengumpulkan beberapa informasi dari artikel online tersebut, saya menyiapkan berkas-berkas yang diperlukan, diantaranya adalah:
1. KTP Asli
2. Fotokopi KTP 3 lembar
3. Map warna abu
4. Uang Rp 200.000
Setelah semuanya siap, saya memutuskan datang ke Polres Bandung pada hari Senin, tanggal 21 Januari 2019 yang berlokasi di Jl. Bhayangkara, No. 1, Soreang, Kabupaten Bandung (lokasi: https://goo.gl/maps/LrBMfpcbnmx). Dengan berbekal informasi yang sudah dicari sebelumnya, saya datang sendirian kesana tepat jam 07.00 sudah di tempat, karena kalau datang siang hari maka pikir saya akan banyak orang-orang yang membuat panjang antrian.
Hal yang dilakukan pertama kali ketika hendak membuat SIM adalah periksa kesehatan di ruangan yang berlokasi di area belakang Polres Bandung (dekat tempat parkir). Saya pikir test kesehatan ini persis seperti di RSUD akan menggunakan alat atau test tertentu, tetapi tes kesehatan di Polres ini sifatnya lebih ke formalitas karena hanya ditanya tinggi, berat badan, riwayat sakit, kondisi mata minus berapa (kebetulan saya memakai kacamata), tes buta warna, dan setelah itu melakukan pembayaran administrasi kurang lebih Rp 30.000. Setelah melewati tahap tersebut, maka selembaran surat rekomendasi kesehatan dari dokter yang bertugas pun saya dapatkan.
Selanjutnya, setelah test kesehatan adalah perekaman sidik jari. Ruangan sidik jari berada di dalam lingkungan Polres, sehingga sebelum masuk kita diharuskan memperlihatkan e-KTP beserta fotokopinya dan surat rekomendasi sehat yang dimasukan ke dalam satu map berwarna abu, selain itu juga harus melepaskan jaket, dan tidak diperkenankan memakai celana pendek. Saya menangkapnya peraturan tersebut dimaksudkan agar meminimalisir Calo sehingga orang yang tidak berkepentingan tidak bisa masuk (meskipun hanya mengantar pun tidak diperbolehkan). 
Nah setelah masuk ke dalam area perekaman sidik jari, saya dikasih selembaran kertas untuk nantinya kita isi informasi biodata kita dan perekaman sidik jari (terdapat 5 kolom untuk masing-masing jari). Setelah selesai perekaman sidik jari kita diharuskan membayar administrasi Rp 20.000 (kurang lebih). Ada kejadian unik di sana, saat saya hendak membayar biaya administrasi sidik jari. 
Petugas  : Bapak mau bikin sim apa ?
Saya       : Saya mau bikin SIM A teh
Petugas  : Disini saya melihat pekerjaan bapak sebagai dosen ya ?
Saya       : Iya teh pekerjaan saya dosen
Petugas  : Memang dosen dimana pak ?
Saya       : Dosen di Polije, Jawa Timur.
Petugas : oh begitu, yasudah pak langsung saja menuju loket pendaftaran berkas, tidak usah membayar biaya administrasi.
Saya      : Wahh, terimakasih banyak ya teh
Petugas : sama-sama pak
Setelah melewati ruang sidik jari tersebut, saya bersyukur sekali tidak usah membayar biaya administrasi perekaman sidik jari hehe semoga petugas tersebut juga mendapatkan kebaikan yang lebih.
Berikutnya saya menuju ruangan penyerahan berkas, di sana nampak sangat bertumpuk orang-orang yang berurusan dengan SIM, entah itu hendak membuat SIM baru, memper-panjang masa aktif SIM, mengulang ujian teori maupun ujian praktik. Nah setelah di ruangan tersebut saya menyerahkan berkas saya dalam satu map abu yang berisikan surat kesehatan, fotokopi ktp, dan perekaman sidik jari. Selang beberapa menit saya dipanggil untuk memverifikasi data saya yang ditampilkan di layar komputer, setelah sesuai saya diperbolehkan menuju ruangan foto untuk mengambil gambar wajah (closeup) tanpa kacamata. Setelah selesai pengambilan gambar, saya langsung menuju ruangan ujian teori.
Nah ujian teori ini menurut saya agak aneh sekali, karena soalnya berbasis video demonstrasi yang sangat berbeda dengan kisi-kisi di dalam buku yang ada di ruang tunggu Polres Bandung ini.
Sehingga saat pertama saya test teori SIM mobil ini, saya dinyatakan tidak lulus atau nilainya berada di bawah Passing Grade 80, alias saya hanya mendapatkan nilai 44. Setelah dinyatakan gagal ujian teori, saya diharuskan mengulang di kesempatan berikutnya atau pekan depan. Tepat pada tanggal 28 Januari 2019, saya kembali mengikuti ujian teori, dan Alhamdulillah saya mendapatkan skor 97 (perfect :D). Ada tips nya loh mengerjakan ujian teori SIM A ini, yaitu fokus lihat video demonstrasinya jangan baca soalnya, karena ketika kita fokus pada demontrasi yang disajikan dalam bentuk video, kita akan bisa menilai apakah benar atau salah pengemudi tersebut. Hal yang paling mengecohkan dalam mengerjakan ujian teori ini adalah pertanyaan yang berbentuk teks yang terkadang tidak nyambung, sehingga membingungkan kita.
Setelah berhasil melewati ujian teori, selanjutnya saya mengikuti ujian praktik. Ujian praktik SIM A di Polres Bandung terbagi ke dalam tiga tahapan yaitu praktik parkir mobil seri mundur, lalu praktik parkir mobil seri, dan yang terakhir adalah praktik stop and go di tanjakan.



Serangkaian test praktik SIM A (Parkir Seri, Parkir Paralel, Tanjakan)




Pertama saya menyerahkan berkas kepada petugas yang membawa mobil praktik, karena ada beberapa orang yang praktik maka akan dipanggil bergiliran sesuai dengan tumpukan berkasnnya. Setelah beberapa menit saya dipanggil dan masuk ke dalam mobil praktik. Ohya jenis mobil yang digunakan di Polres Bandung adalah mobil Gran Max tipe E (manual, tanpa sensor parkir, dan kaca belakang tertutup). Nah setelah saya berada di dalam mobil, petugas juga ikut masuk ke dalam mobil berada di samping kiri.
Singkat cerita ketika saya masuk mobil, petugas dengan nada tegas menjelaskan bagiamana aturan praktik mobil ini, terdiri dari tiga tahap; parkir seri, parkir paralel, dan tanjakan. Masing-masing diberikan 2 kali kesempatan apabila gagal atau menyenggol patok.  Terkecuali pada tahap tanjakan atau stop and go hanya diberikan satu kali kesempatan saja.
Jujur menurut saya aturannya sangat ketat sekali, parkir seri harus mundur sekali jadi (tidak boleh maju untuk meluruskan dan mesin tidak boleh mati), posisi mobil harus simetris (tidak mepet kiri atau kanan), tidak boleh menoleh ke belakang (mengandalkan spion kiri kanan dan feeling).  
Pertama kali saya test parkir seri ini saya gagal karena terlalu mepet ke sebelah kiri. Setelah gagal di parkir seri, saya melanjutkan untuk ke parkir paralel. Nah parkir paralel ini cukup luas area nya, jadi saya bisa melakukannya dengan baik. Selain luas kita juga diberikan kesempatan maju untuk meluruskan. Sehingga saya dinyatakan lulus dalam tahap parkir paralel.
Praktik parkir seri gagal, praktik pararel berhasil, maka saya diharuskan mengulang ujian praktik tersebut. Dituliskan saya harus kembali pada tanggal 4 Februari 2019 atau menunggu satu pekan.
Tepat pada tanggal 4 februari 2019, saya kembali kesana untuk ujian praktik mobil di tahap parkir seri dan ternyata masih gagal karena saya mundur kejauhan sehingga patok belakang terjatuh. Maka saya dinyatakan gagal, tidak bisa ke tahap test tanjakan. Saya diharuskan ikut ujian ulang pada tanggal 18 februari 2019 (dua pekan selisih waktunya).
Pada tanggal 18 februari 2019 saya kembali mengikuti test tersebut, ternyata saya masih gagal juga di tahap parkir seri karena posisi mobilnya miring atau tidak simetris. Setelah itu saya diharuskan kembali mengikuti ujian praktik pada tanggal 18 maret 2019 (satu bulan selisih waktunya). Pada tanggal 18 maret saya berharap tidak melakukan kesalahan yang sama, maka pada kesempatan ini saya beruntung bisa memarkirkan mobil dengan sempurna pada tahap parkir seri. Maka setelah itu, saya menuju tahap berikutnya yaitu stop and go di tanjakan. Nah di sini, saya mengalami kesulitan karena mobilnya tidak sesuai dengan yang biasanya dalam artian kuplingnya dalam, begitu juga dengan rem tangannya harus sampai mentok, kalau rem tangannya tidak mentok maka mobil akan mundur. Maka ketika saya berada di tanjakan, berhenti dengan menggunakan rem tangan setelah itu disuruh maju kembali, tiba-tiba mobilnya langsung mati. Padahal biasanya kalau pakai mobil biasa (saya pakai Suzuki APV tidak ada masalah), mungkin setelan kuplingnya juga yang berbeda. Akhirnya saya dinyatakan gagal dalam tahap tanjakan ini dan harus mengulang selama satu bulan lagi yaitu tanggal 18 April 2019 atau sesudah pemilihan Capres.


Dokumentasi Coretan untuk Ujian Ulang

Nah begitu perjuangan saya untuk membuat SIM A yang menurut saya sangat susah apabila kita "JUJUR" dalam mengikuti proses aturan yang tahap-demi tahap kita lakukan.  Meskipun harus diulang beberapa kali, saya tetap akan berusaha, dan saya siap untuk ujian ulang pada tanggal 18 April 2019 nanti.
Ohya ternyata bukan saya saja sendirian yang mengalami kesulitan itu. Di saat saya menunggu giliran dipanggil oleh petugas, saya menyempatkan mengobrol dengan salah seorang yang sedang berjuang untuk mendapatkan SIM A juga, katanya beliau sudah dari awal bulan November 2018 hingga bulan Maret 2019 ini belum lulus juga ujian praktik mobilnya loh. Bahkan ada juga yang sudah berpengalaman bawa mobil ke luar kota atau provinsi masih tetap gagal juga saat di test parkir oleh petugas. Jadi apa yang menentukan proses bikin SIM bisa cepat ? mungkin karena rezeki nya bagus, dan juga lewat jalur belakang.
Awalnya saya percaya bahwa di Polres itu sudah bersih tanpa ada shortcut (jalan pintas) untuk membuat SIM, tapi kenyataannya masih ada saja oknum-oknum petugas yang menawarkan proses cepat pembuatan SIM, tidak tanggung-tanggung dengan mengeluarkan biaya Rp 700.000 dan hanya memakan waktu 10 menit maka SIM sudah bisa diambil atau dicetak.  Coba anda bayangkan bagaimana uang bisa mengalahkan peraturan yang sudah dibuat dan ditetapkan oleh mereka, ternyata malah dilanggar oleh sang pembuat aturan. 
Saya menuliskan cerita ini sebetulnya ingin meluapkan perasaan saya ketika ada beberapa orang yang tidak lulus, mereka langsung bertindak untuk mencari petugas melalui cara jalan pintas tersebut dalam mendapatkan SIMnya secara instan.
Memang jujur itu mahal, jadi apapun resikonya sampai mengulang beberapa kali, saya akan tetap berusaha  untuk mengikuti ujian ulang praktik SIM A (Mobil). Semoga di kesempatan berikutnya saya bisa melewati tahap ujian stop and go di tanjakan. 
Sekian cerita yang sempat saya tulis.

Lanjut ke part 2



9 Okt 2018

Pengalaman Membuat SKCK di Polres Bandung, Soreang

Tepat pada tanggal 9 Oktober 2018, saya membuat SKCK di Polres Bandung, Soreang Kabupaten Bandung. Jika belum tahu letak lokasi Polres Bandung silahkan klik Link ini  .

Sebelum menuju Polres, saya menyiapkan syarat-syarat yang diperlukan,  yakni berupa:

1. Foto Copy KTP sebanyak 2 lembar
2. Foto Copy KK sebanyak 1 lembar
3. Foto Copy Akta sebanyak 1 lembar
4. Pas Foto 4x6 cm berlatar belakang merah sebanyak 4 Lembar
5. Map biru (tidak ada warna khusus)

Setelah menyiapkan berkas-berkas tersebut, saya berangkat dari rumah di Dayeuhkolot tepat pukul 07.00 dan sesampai di Polres pukul 07.45. Melihat kondisi Polres yang masih dalam persiapan, akhirnya pukul 08.00 saya diperbolehkan masuk untuk mengurus SKCK. Saat memasuki pintu utama Polres Bandung kita dimintai KTP di pos penjagaan untuk menggantinya dengan kartu Tamu berwarna kuning yang digantung di leher.
Selanjutnya saya menuju Gedung Pelayanan SKCK yang berada di sebelah kiri, jaraknya sekitar 50 meter dari pos penjagaan.
Sesampainya di gedung pelayanan SKCK saya menanyakan kepada petugas reception untuk membuat SKCK bagaimana alurnya, dan saya juga memperlihatkan berkas berkas persyaratan ke petugas tersebut. Setelah dicek, berkas-berkas saya sudah kumplit, lalu petugas menanyakan kembali apakah sudah daftar online ? saya jawab belum, lalu petugas reception mengarahkan saya untuk membuka IG @skckonline_polresbandung, dan mengisi data di link yang sudah tertera di IG tersebut, yakni www.delivery.skckpolresbandung.com, yang mengarahkan langsung ke Google Form.
Setelah mengisi data di Google Form tersebut, saya kembali memberitahu ke reception bahwa saya sudah mengisinya, setelah itu mereka mengecek berkas-berkasnya, dan memberikan form Sidik Jari untuk diisi datanya.



Setelah mengisi data form sidik jari, form sidik jari dikumpulkan ke Loket 1 dengan disertai FC KTP 1 lembar.


Selanjutnya, saya disuruh menunggu untuk selanjutnya pada proses perekaman sidik jari yang berada di luar sebelah ruangan. Proses perekaman sidik jari dilakukan pada semua 10 jari kita, di tangan kanan dan di tangan kiri.

Setelah itu, kita kembali menunggu, karena hasil dari perekaman sidik jari dikembalikan lagi ke petugas loket satu.




Kemudian saya menunggu untuk kembali dipanggil di loket satu, selang 20 menit saya dipanggil oleh petugas di loket satu kemudian harus membayar administrasi pembuatan sebesar Rp 10.000. Lalu dari situ kita mendapat nomor antrian untuk meuju loket dua. Tidak lama sekitar 30 menit, nomor antrian saya dipanggil untuk menuju loket dua, dan di sana saya menyerahkan semua berkas-berkas persyaratan yang dikumpulkan dalam satu map serta saya diharuskan membayar Rp 30.000 untuk pembuatan surat SKCKnya.




Setelah itu saya diarahkan untuk menunggu penerbitan surat SKCKnya di luar.


Kurang lebih selama 1 jam, akhirnya nama saya dipanggil dan diberikan SKCKnya oleh petugas. Petugas menyarankan agar SKCK tersebut dilegalisir di tempat foto copy yang letaknya berada di luar kantor Polres, tepatnya di sebrang ATM BRI. Biaya melegalisir Rp 5.000 untuk 10 lembarnya.

Alhamdulillah kurang lebih jam 10.30 saya bisa kembali menuju ke rumah dengan membawa SKCK Polres yang terbaru.

*Note:
1. Diawali dengan bismillah, disudahi dengan alhamdulillah
2. Bawalah air minum, makanan ringan, headset, atau buku, karena akan sering kita menunggu
3. Bawalah uang pas agar mempercepat proses pembayaran
4. Jangan lupa untuk datang lebih awal , lebih baik menunggu daripada kesiangan
5. Jangan sungkan untuk menanya jika ada hal-hal yang dirasa kurang dimengerti kepada petugas, karena sejauh ini pelayanan yang diberikan oleh petugas sudah sangat baik dan ramah. 

Kurang lebih seperti itu yang bisa saya share infonya, semoga bermanfaat. Apabila ada info yang kurang jelas, jangan sungkan untuk meninggalkan komentar.

Terimasih sudah membaca di Blog ini :)

Anugrah terindah

Sabtu, 3 Juni 2023 adalah hari di mana yang tidak pernah terlupakan, karena anugrah itu datang, putra pertama kami lahir.  Semoga menjadi an...